Tampilkan postingan dengan label Article. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Article. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Maret 2014

Peduli

Pentingkah kepedulian? Bagaimana kalau diantara manusia tidak ada kepedulian? Tentunya hubungan manusia tidak akan harmonis sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya. Saat ini pemberitaan di TV marak dengan berita jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MHA370 yang sampai sekarang ini belum ditemukan dengan membawa ratusan penumpang dari beberapa negara termasuk 12 orang warga negara Indonesia. Penumpangnya kebanyakan warga negara China kurang lebih berjumlah 250 orang. Pemerintah dan pihak keluarga korban asal China merasa kecewa bahkan kesal dengan sikap pemerintah Malaysia dan pihak penerbangannya yang terkesan tertutup dalam hal informasi tentang jatuhnya pesawat tersebut. Mereka merasa tidak dipedulikan, kesedihan, kesedihan yang mendalam yang mereka rasakan dengan belum memberi bantuan sosial bagi keluarga korban serta memikirkan nasib keluarga mereka yang belum diketahui keberadaannya sampai sekarang ini. Keadaan tersebut menggugah hati banyak orang atau banyak negara untuk ikut terlibat dalam pencarian pesawat yang hilang termasuk Indonesia baik melalui kapal laut maupun pesawat untuk memantau tempat tempat yang diperkirakan menjadi tempat jatuhnya pesawat tersebut. Kejadian ini lebih banyak melibatkan negara-negara dalam proses pencarian. Semuanya merasa peduli!!
Kita juga melihat dilayar kaca atau TV adanya informasi peduli sesama dengan sebutan “DOMPET PEDULI” untuk membantu merekay ng hidup dalam kesusahan baik itu korban bencana alam maupun mereka yang menderita sakit berat yang tidak dapat membiayai pengobatannya. Begitu banyak korban bencana alam mengalami stres karena mereka harus meninggalkan bahkan kehilangan harta bendanya. Sungguh mengharukan kala petugas sosial pemerintah atau swasta termasuk pihak gereja yang datang mengunjungi mereka dengan pelayanan pastoral konseling untuk memulihkan trauma bahkan terhibur saat mendapatkan bantuan kasih walau hanya sebatas bahan makanan dan pakaian bekas sekalipun. Mengunjungi orang sakit, melawat mereka yang berduka adalah bagian kepedulian yang terus dilaksanakan sebagai wujud kasih yang harus dinyatakan kepada orang lain yang mengalami kesusahan.
Akhir-akhir ini saya cukup terharu dengan kepedulian yang kita tunjukkan dalam pelayanan mulai dari pelayanan anak-anak sampai pelayanan lansia dapat dilaksanakan dengan penuh semangat dan sukacita. Bahkan dalam melakukan pelayanan tanpa mengenal waktu, pengerja orang muda sebagai tiang geraja melakukan hal-hal yang tidak sempat kami lakukan, mengunjungi yang sakit baik secara kelompok maupun sendiri untuk menyatakan kepeduliannya bagi sesama yang harus dilayani. Beberapa hari yang lalu seorang anak prajurit muda menangis bahkan memberontak karena tidak ditunggu kedatangannya untuk memimpin acara ibadah karena lambat datang akibat bermain dan lupa waktu. Keinginan-keinginan yang besar untuk mau berkarya bagi Tuhan sebagai wujud peduli atas pelayanan Tuhan.
Teringat Dengan kepedulian Tuhan Yesus, saat melihat banyak orang untuk dilayani, Ia memanggil orang-orang untuk menjadi murid-murid-Nya untuk dijadikan sebagai penangkap jiwa. Kepedulian para murid menjadi sukacita besar bagi Tuhan yang rela mempersembahkan waktu, tenaga, bakat, harta dan seluruh kehidupannya jadi alat kemuliaan nama-Nya. Banyak jiwa-jiwa yang membutuhkan kepedulian baik mereka yang sakit secara rohani, bahkan secara jasmani sangat membutuhkan sentuhan kasih untuk memenuhi segala kerinduan atau kebutuhan hidup mereka. Tuhan Yesus sendiri menyadari bahwa Ia tidak dapat bekerja sendiri untuk mewujudkan kepedulian-Nya, itulah sebabnya Ia memanggil orang-orang pilihan-Nya untuk menjadi alat-Nya dalam pelayanan kemanusiaan dan rohani. Walau banyak yang mundur karena tidak sanggup untuk melayani, bahkan dalam kelompok inti yang terdiri 12 orang pun ada yang menghianati-Nya, namun karya-Nya bersama orang pilihan-Nya dapat melanjutkan pelayanan tersebut dengan baik hingga kini berita tentang kerajaan Allah terus dikumandangkan sampai kepelosok dunia. Tuhan Yesus mengajarkan arti kepedulian bagi kita bahkan menunjukkan teladan-Nya bagi kita hingga menjadikan-Nya sebagai tokoh besar disepanjang masa karena kepedulian-Nya bagi keselamatan kekal jiwa kita umat yang dikasihi-Nya dengan menyerahkan hidup-Nya untuk menjadi korban keselamatan dengan rela menanggung penderitaan sampai mati di kayu salib sebagai puncak karya agung-Nya untuk menyelesaikan pekerjaan-Nya dengan baik oleh bapa-Nya. Tuhan peduli dan mengatakannya “Tetapi Aku berkata kepadamu : Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita” (Yohanes 4:35,36). Kepedulian akan mendatangkan sukacita, maukah kita melakukannya? (Mayor Merling Sandjo, S.Th.)




Selasa, 04 Maret 2014

Dapur Buletin LOH

Lalu TUHAN menjawab aku, demikian : "Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya."  Habakuk 2:2


Para pembaca LOH yang setia terimalah salam hangat dari saya. Haleluya, terpujilah Tuhan kita Yesus Kristus, yang selalu memberikan hikmat dalam bentuk ide-ide yang cemerlang sehingga hari ini buletin LOH Gereja Bala Keselamatan Korps Towua memasuki edisi ke 161. Buletin ini sudah memberkati banyak orang. Tulisan saya kali ini ingin mengajak para pembaca untuk memikirkan apa yang saya pikirkan dalam bentuk pertanyaan.

Apakah yang terjadi seandainya buletin LOH tidak ada? Pernahkah para pembaca LOH berpikir seandainya gereja kita tidak menerbitkan LOH? Saya membayangkan demikian : tentunya seusai ibadah kita akan berlama-lama mendengarkan pengumumang tentang pelayanan dan tentang keuangan Gereja, sangat amat repot dan membosankan bukan? Untung ada LOH.

Apakah pembaca LOH sudah tahu kalau ada Gereja Bala Keselamatan lainnya yang sudah mencontohi buletin LOH? Apakah para pembaca LOH sudah tahu kalau LOH juga dibaca dan menjadi berkat bagi anggota Gereja Bala Keselamatan yang lainnya dan non BK? Luar biasa bukan. Allah telah memberikan ilham kepada hamba-Nya Mayor Janneman R. Usmany, M.Th. sebagai pencetus lahirnya buletin LOH, Allah juga sudah memberikan ilham bagi para penulis untuk menulis dalam bahasa sederhana hal-hal yang dikehendaki Allah. Jadi, LOH memang berisi tulisan-tulisan manusia, namun tulisan-tulisan itu ditulis dalam tuntunan Allah. Itulah sebabnya kita patut bersyukur kepada Allah untuk buletin LOH yang kita miliki sekarang ini.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah para pembaca LOH tahu bagaimana kondisi dapur buletin LOH? Biar saya beri tahu, apa yang saya tahu, agar para pembaca LOH ketahui. Para pekerja di dapur buletin LOH selalu bekerja keras saat hari Sabtu tiba, kerja keras itu semakin menggelisahkan jika listrik padam alias mati lampu. Lalu para penulis LOH dari Refleksi, renungan harian sampai artikel sepanjang minggu mereka harus berpikir seolah-olah ada pertanyaan mendesak yang muncul dibenak mereka "apalagi yang harus saya tulis", setelah menulis, tulisan mereka dimasukkan kedapur LOH untuk diolah. Maka mulailah dapur buletin LOH bekerja keras, mengisi data keuangan, mengedit bagian-bagian tulisan yang perlu diedit. Lalu setelah 3 bulan cover LOH harus diganti lagi, inilah pekerjaan yang cukup sulit dan rumit, para pekerja di dapur buletin LOH mulai memikirkan bagaimana membuat cover yang lebih menarik lagi. Semuanya butuh kerja keras bukan? Tetapi lihatlah seringkali para pembaca LOH meninggalkan LOH ditempat duduknyaseusai ibadah. Saya selali mengumpulkannya kembali. Mungkin mereka belum sadar bahwa LOH "Penting dan Berguna". Akhirnya, saya mengucapkan selamat untuk semua yang bekerja dibelakang layar, untuk mereka yang berada di dapur buletin LOH. (Ratno Afrianto Harinei,S.Th. - Ketua Galilea Youth Ministry)




Minggu, 23 Februari 2014

Hati Empunya Tuaian


    Ayat  Firman Tuhan yang terdapat di dalam spanduk tema teritori 2014 yang terpampang di  depan membuat saya merenung dan memikirkan tentang isi HATI EMPUNYA TUAIAN atau empunya pekerjaan Tuhan ini yang mengatakan : “..........Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. Sekarang juga penuai telah menerima upahnya  dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita ( Yohanes 4:35,36 ). Tuhan yang empunya tuaian ini menghendaki agar kita yang ada dalam persekutuan ini senatiasa  mengemban tugas yang mulia dengan baik, entahkah yang memulai pelayanan ini atau  yang meneruskannya  sama-sama bersukacita menikmati hasilnya.
          Banyak hal yang membuat saya terharu ketika Tuhan menjawab segala sesuatu yang saya pikirkan secara pesimis ketika mendapat tanggung jawab yang lebih besar di tempat ini. Saat pelayanan berjalan tidak lancar dan terkesan tidak siap, ada yang mengatakan : “ Mayor...berikan kami tanggung jawab untuk membantu pelayanan ini sebab tidak mungkin kami hanya mengerjakan pekerjaan yang kecil dan duduk saja”. Saat itu Tuhan menyadarkanku tentang doa yang kupanjatkan untuk pekerjaan Tuhan ini dan nyata benar bahwa tuaian ini tidak akan mati sebab masih ada HATI EMPUNYA TUAIAN yang menggerakkan setiap orang yang dikehendaki-Nya untuk melayani-Nya yang memiliki hati hamba.
          Waktu-waktu yang telah dijalani memperlihatkan penyataan isi HATI EMPUNYA TUAIAN yang harus  dimengerti agar kita dapat melakukan pekerjaan-Nya  dengan  baik. Penyataan tersebut dapat terbukti melalui kesediaan  para penuai atau pekerja dalam ladang Tuhan di tempat ini. Terkadang saya terharu melihat para pengerja orang muda yang rela menghabiskan waktunya sepanjang hari di kantor korps mengerjakan atau mempersiapkan hal-hal yang akan digunakan untuk bahan pengajaran anak-anak. Bahkan ada yang sampai jatuh pingsan oleh karena keasyikan bekerja, lupa makan dan istrahat. Tidak ada hati yang merasa terpaksa, tidak ada hati yang merasa takut dimarahi jika tidak melayani, tidak ada hati yang ingin menyenangkan kami para hamba Tuhan dan lainnya melainkan menyatakan bahwa semuanya dilakukan karena panggilan jiwa.
         Pekerjaan Tuhan yang membutuhkan banyak hal baik tenaga, pikiran maupun materi ini sebenarnya tidaklah mudah sebab semuanya membutuhkan pengorbanan. Banyak yang bekerja tanpa pamrih, mempersiapkan ruang ibadah dan perlengkapan lainnya, membeli dan mengatur konsumsi yang menyita waktu dan tenaga, mempersiapkan cerita atau khotbah dan juga memimpin acara yang tidak jadi dengan begitu saja tetapi membutuhkan waktu untuk berpikir dan terus berpikir dan juga terlibat dalam pelayanan perkunjungan rumah. Banyak yang menyumbang ide-idenya dalam tulisan LOH, membuat atau menyusun LOH , mengambil bagian dalam pelayanan baik bagian orang dewasa  maupun orang muda. Para Opsir Pensiun yang di tempatkan Tuhan di korps ini telah menjadi contoh dan teladan yang telah di persiapkan Tuhan sebagai jawaban nyata isi hati Tuhan yang empunya tuaian ini.
          Rasa haru pula dengan pelayanan persembahan, dimana sebagian besarnya mempersembahkan persembahannya untuk pengembangan pekerjaan Tuhan. Tak  satupun merasa dipaksakan untuk membawa persembahan syukurnya walau sebenarnya ada yang mengalami kesulitan oleh karena  sumber penghasilan tak menentu. Tapi  kenyataannya sampai hari ini kehendak Tuhan terus dinyatakan. Puji Tuhan...benar kata Tuhan : “ Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil buah mereka” ( Yohanes 4:38 ). Keterlibatan  orang lain tidak dapat disepelekan melainkan dihargai karena semula kehendak Tuhan dinyatakan kepada mereka untuk memulai pekerjaan ini. Tuhan telah mempersiapkan setiap orang untuk sesuatu pekerjaan yang baik.  Jadi, pahamilah isi HATI EMPUNYA TUAIAN ini agar kita juga dapat melayani-Nya  dengan hati yang rela dan tulus sebagai syukur kita atas pilihan-Nya yang istimewa ini agar semuanya sama-sama senang atau bersukacita.  Amin! (Mayor Merling Sandjo, S.Th. - Opsir Pemimpin Korps Towua)


Selasa, 18 Februari 2014

Sejarah Berdirinya Korps Towua

CATATAN SEJARAH
      Gereja adalah persekutuan orang-orang yang dipanggil Tuhan Yesus Kristus dari kegelapan kepada persekutuan terang Injil. Orang-orang yang telah dipanggil itu dikuduskan, ditetapkan, dan diberi mandat untuk melaksanakan tugas pemberitaan Injil ke seluruh dunia. Dengan demikian, tugas utama gereja selain untuk menggembalakan adalah untuk mewartakan kedatangan-Nya yang kedua kalinya.
Gereja Bala Keselamatan sedunia adalah bagian dari gereja Tuhan yang universal yang juga dipanggil, dipilih dan ditetapkan untuk melaksanakan Amanat Agung Kristus itu bersama dengan gereja-gereja Tuhan yang universal. Pelayanan Gereja Bala Keselamatan yang telah berusia seratus empat puluh lima tahun tersebut telah melaksanakan tugasnya di lebih dari seratus dua puluh negara di seluruh dunia. Di Indonesia, pelaksanaan tugas marturia tersebut telah dilaksanakan selama seratus enam belas tahun. Pelayanan ekklesia tersebut dilakukan secara holistik dengan juga melaksanakan tugas koinonia, diakonia dan edukasi.
Visi dan ambisi Jenderal William Booth dan Catherine Booth adalah penjangkauan dan pemenangan jiwa-jiwa, serta meluaskan Kerajaan Allah di dalam dunia. Jenderal Booth memiliki cara pandang yang sangat luas. Allah mengaruniakan visi untuk melihat Injil secara utuh. Dengan demikian Injil bukanlah sekedar pewartaan Firman, melainkan juga pemenuhan kebutuhan hidup bagi mereka yang tidak beruntung. Injil, bagi Booth, sebagaimana yang dipelajarinya dari Tuhan Yesus Kristus bukanlah sekadar kata tetapi juga karya nyata. Inilah yang membuat Bala Keselamatan tampil dalam perbedaaan yang nyata sekalipun esensi ekklesiologinya sama.

      Khusus untuk pelayanan Gereja Bala Keselamatan di Sulawesi Tengah, telah dilaksanakan selama sembilan puluh tujuh tahun. Pelayanan yang dilaksanakan di Sulawesi Tengah lebih banyak dilakukan di daerah pedesaan. Kota Palu sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah telah memiliki tiga gereja besar dan satu pos pelayanan. Beberapa pelayanan institusional lainnya adalah: Rumah Sakit Umum Woodward, Akademi Keperawatan, Panti Asuhan Putri Sejahtera, Sekolah Bala Keselamatan di Towua, Sekolah Tinggi Teologi, dan Radio Cakrawala. Jika dibandingkan antara jumlah tahun pelayanan dengan pengembangan institusi, maka perkembangan yang ada terhitung lamban. Rasionalnya adalah, jika setiap tahun, suatu gereja dikembangkan, maka hingga saat ini sedikitnya terdapat delapan atau sembilan gereja utama. Sedangkan pelayanan institusi lain yang non-gereja adalah merupakan pengembangan institusi gereja yang ada. Dalam kurun waktu sembilan puluh tahun, Gereja Bala Keselamatan di Palu baru memiliki tiga jemaat besar. Memperhatikan keadaan tersebut, maka perlulah dibuka atau dikembangkan satu jemaat baru di kota Palu.
Apa yang diuraikan dalam tulisan ini bukanlah berdasarkan pertimbangan-pertimbangan rasional semata, namun adalah karena kepekaan terhadap pimpinan Roh Kudus yang menghendaki pengembangan gereja-Nya. Yang dituliskan dalam proposal ini adalah merupakan wujud keterbebanan akan panggilan untuk pelaksanaan Amanat Agung Yesus Kristus dan juga visi Allah bagi dunia. Selain itu, merupakan bagian dari tanggung jawab untuk mengembangkan pekerjaan organisasi. Pembukaan Gereja Bala Keselamatan Towua merupakan bagian dari pelaksaan tanggung jawab tersebut.

MAKSUD DAN TUJUAN
Adapun maksud dan tujuan pembukaan gereja baru tersebut adalah:
  1. Melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus dalam Injil Matius 18:19, 20 dan Injil Matius 16 supaya terlihat benar bahwa misi penginjilan tersebut dilaksanakan oleh gereja Bala Keselamatan.
  2. Melaksanakan kehendak Roh Kudus yang merupakan Oknum ketiga dalam Tritunggal yang dalam keesaan-Nya dengan Allah Bapa dan Allah Anak telah mengembangkan gereja sejak awal supaya manifestasi karya Roh Kudus dapat terlihat dalam gereja baru yang dikembangkan.
  3. Melaksanakan tanggung jawab gereja secara organisastoris yakni mengembangkan gereja Tuhan di tengah kemajuan zaman supaya dunia dapat menyaksikan bagaimana gereja mengembangkan dirinya dalam kekuatan Roh Kudus.
  4. Mengakomodasi jemaat-jemaat yang dapat bergereja ke gereja-gereja Bala Keselamatan yang ada mengingat faktor tempat, jarak, waktu, keuangan, dan faktor lain yang tidak bisa dijelaskan supaya jemaat-jemaat yang ada tersebut dapat bergereja di gereja Bala Keselamatan yang baru dibuka.
  5. Menyiapkan tempat pelayanan bagi mahasiswa-mahasiswi Sekolah Tinggi Teologi Bala Keselamatan Palu supaya para mahasiswa dapat menerapkan segenap ilmu dan iman yang mereka miliki selama mereka belajar di Sekolah Tinggi Teologi.
  6. Memberikan peluang pelayanan kepada lebih banyak orang supaya talenta, panggilan pelayanan, dan komitmen pelayanan dapat dilakukan oleh lebih banyak orang yang telah dilengkapi.
  7. Mengantisipasi pengembangan kota Palu dan pengembangan gereja-gereja yang ada supaya gereja Bala Keselamatan tidak kehilangan momentum pengembangan pelayanan yakni penjangkauan terhadap jiwa-jiwa yang membutuhkan kasih dan perhatian Kristus melalui gereja-Nya.
SASARAN
Yang dimaksud dengan sasaran di sini adalah orang-orang atau jiwa-jiwa yang dijangkau melalui pembukaan dan pengembangan gereja baru tersebut. Sasaran disusun berdasarkan prioritas yang ada.
  1. Siswa-siswi Sekolah Kristen Bala Keselamatan Palu dan mahasiswa-mahasiswi Sekolah Tinggi Teologi Bala Keselamatan Palu yang berasal dari luar kota Palu yang karena bersekolah/kuliah harus tinggal di Palu dan belum memiliki gereja yang tetap.
  2. Orang-orang yang belum bergereja di mana pun karena alasan-alasan tersendiri. Orang-orang ini merupakan sasaran penginjilan.
  3. Orang-orang Kristen lain yang masih belum memiliki gereja tetap.
  4. Warga Gereja Bala Keselamatan lain yang bertempat tinggal di sekitar gereja Bala Keselamatan yang baru dibuka.
      Sasaran penjangkauan lebih ditekankan kepada warga sekolah, warga STT dan orang-orang yang belum memiliki gereja tetap. Namun jika ada warga lain, khususnya warga Gereja Bala Keselamatan lain yang berdekatan dan berniat untuk menjadi anggota gereja Bala Keselamatan yang baru, maka hal ini menjadi pilihan dengan persetujuan opsir pemimpin Gereja Bala Keselamatan yang telah ada di kota Palu dan sekitarnya.

NAMA GEREJA
      Nama gereja Bala Keselamatan yang akan dibuka ini bernama, “Gereja Bala Keselamatan Korps Towua.” Tidak disarankan untuk menggunakan nama Korps IV Palu, karena kesan jumlah yang ada dan terbatas. Tentang nama “Towua” sendiri berdasarkan informasi yang diberikan memiliki beberapa arti:
  1. Nama ini berasal dari bahasa Kulawi, “Ntuwa Langi”, artinya lebah langit. Ini merupakan nama orang atau pahlawan (tadulako) dalam perang Bulu Momi Kulawi. Menurut informasi yang diberikan bahwa Bapak Drs. Charles Kapile, M.Hum. menulis tesisnya tentang hal ini.
  2. Nama ini berasal dari bahasa Kaili, “To” asal kata “Tona” yang artinya “orang”; dan “Wua” artinya “buah”. Jika diartikan seluruhnya, maka Towua artinya orang yang berbuah. Yang dimaksud dalam budaya suku Kaili adalah orang yang berpenyakit gondok. Informasi ini diperoleh dari Bapak Frans Laua berdasarkan informasi orang Kaili di sekitar jalan Towua.
  3. Nama Towua diambil dari sebuah pohon besar yang tumbuh di sekitar jalan Towua sekarang yang di bawah pohon tersebut terdapat mata air besar. Informasi ini berdasarkan pemberitahuan beberapa orang tua Kaili yang disampaikan kepada Ibu Deliana Mpatoki, S.E.
      Dari informasi-informasi yang ada kiranya dapat memperoleh gambaran mengenai arti nama Towua. Namun yang paling penting adalah, bahwa nama jalan tersebut sangat identik dengan nama sekolah dan identik dengan nama Bala Keselamatan. Masyarakat telah terbiasa menyebut dengan nama “BK Towua”.
Gereja Bala Keselamatan yang baru dibuka ini akan berlokasi di Jalan Towua No. 80 Palu, menggunakan auditorium yang ada dan menggunakan ruang-ruang kelas yang ada sebagai kelas-kelas sekolah Minggu dan kelas-kelas Pemahaman Alkitab.

AWAL TERBENTUK
      Terbentuknya gereja Pos Luar Towua ini, diawali dari sebuah Visi yang besar oleh Mayor Janneman Rudolf Usmany, M.Th, yang kemudian Visi tersebut dinyatakan dengan dibukanya pelayanan khusus anak-anak muda.
Hari Jumat bukan secara kebetulan, Mayor Usmany memanggil 7 orang mahasiswa sebagai pemikir awal untuk gerakan pemuda tersebut. Mereka adalah Yonathan Adisurya Kartodarsono (Yonas), Ratno Afrianto Harinei (Ratno), Dedi Agustino Harinei (Dedi), Elisabeth Levina (Vina), Nancy Sendow (Nancy), Ruth Frisca Panjaitan (Ruth), dan Noviani Lidya Mparesi (Novi). Dalam pembicaraan malam itu Mayor Usmany menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab untuk pengembangan gerakan pemuda tersebut kepada ke-7 orang pemikir awal tersebut. Mulai saat itulah ke-7 orang tersebut mencari teman-teman yang bisa bekerja sama untuk melayani Yesus Kristus Tuhan kita lewat pelayanan gerakan pemuda yang akan dibentuk.
Sampai saat ini pengurus dan pengerja gerakan pemuda sudah lebih dari 7 (tujuh) orang. Itu artinya gerakan ini diberkati oleh Tuhan. Gerakan ini bergerak di bidang pengajaran. Pengajaran Firman Tuhan menjadi fokus utama dalam pelayanannya. Dalam keyakinan iman TUHAN AKAN MEMBIAYAI PEKERJAAN-NYA SENDIRI.
Namun gerakan pemuda ini belum mempunyai nama. Nama apakah yang dipakai untuk gerakan ini?. Mari kita melihat sejarah terbentuknya nama gerakan ini yang merupakan awal mula pelayanan yang ada di Korps Towua.

SEJARAH GERAKAN "GALILEA YOUTH MINISTRY"
      Siang itu semua yang mengikuti rapat perdana sangat lelah karena kampus STT BK Palu baru saja selesai mengadakan acara wisuda. Dalam kondisi yang sangat kelelahan, rapat harus tetap dilaksanakan di tempat itu, di auditorium Sekolah Bala Keselamatan Palu untuk mencari nama yang paling tepat untuk gerakan ini. Mulailah para pengikut rapat mengusulkan nama “Apostolos”“Boanerges”, dll. Hasil rapat siang itu kembali diajukan untuk disetujui oleh Mayor Usmany yang sedang duduk menanti di ruangan Kantor Pengurus. Dan baru di sanalah, tidak secara kebetulan terbentuklah nama gerakan ini “Galilea”.
Galilea adalah nama suatu daerah di bagian Utara Palestina. Di tempat inilah semua kegiatan pelayanan Yesus dimulai. Dalam Perjanjian Baru Yesus seringkali mengunjungi daerah ini. Penduduk Galilea merupakan campuran dari orang Yahudi dan bukan orang Yahudi. Nama “Galilea” adalah ide dari saudari Novi.
Persekutuan yang mula-mula disebut gerakan ini kemudian disempurnakan namanya menjadi “Galilea Youth Ministry”. Dalam hal ini bukan semata-mata disebut “gerakan”, tetapi “PERSEKUTUAN PEMUDA GALILEA”. Bagaimana menjangkau jiwa-jiwa dalam persekutuan ini?. Kembali lagi tidak secara kebetulan, adanya persekutuan ini kemudian diumumkan di setiap unit Sekolah Bala Keselamatan, baik itu SMP, SMA, SMK maupun STT. Para siswa/mahasiswa yang tidak memiliki kegiatan apapun di hari Jumat malam diundang untuk mengikuti persekutuan ini. Ya, itu artinya, pelayanan ini dibuka untuk semua denominasi gereja yang ada. Tidak hanya pemuda dari gereja Bala Keselamatan.
Persekutuan ini dimulai dengan keyakinan iman kami bahwa dalam setiap persekutuan dan pelayanan akan mengikut sertakan Yesus di dalamnya. Yesus adalah satu-satunya dasar dari gerakan ini. Yesus akan selalu ada dalam gerakan ini.
Tepatnya tanggal 5 November 2010, ibadah perdana dimulai. Pada saat itu ibadah perdana dipimpin oleh Sdri. Nancy Sendow dan Agnes Tarro dan yang berkhotbah adalah Sdr. Yonathan Adisurya Kartodarsono. Sebuah hal yang tidak terduga sebelumnya karena ibadah perdana pada saat itu dihadiri oleh 89 anak-anak muda dari interdenominasi. Haleluyah!. Hingga saat ini seluruh anggota GYM yang tercatat berjumlah 250 jiwa, dengan rata-rata kehadiran 150-200 jiwa perminggu.

IBADAH UMUM KESUCIAN, TEBUSAN, PERSEKUTUAN KAUM PRIA (PKP) DAN PERSEKUTUAN KAUM WANITA (PKW)
      Pelayanan terus berkembang, tepatnya pada tanggal 16 Januari 2011 pelayanan ini dibuka dengan dimulainya ibadah kesucian perdana yang dihadiri 64 jiwa dan tebusan dihadiri 101 jiwa. Seminggu kemudian, yaitu pada tanggal 23 Januari 2011 merupakan peristiwa penting di mana pada saat itulah gereja ini diresmikan dengan status GEREJA BALA KESELAMATAN POS LUAR TOWUA, dengan Opsir Pemimpinnya adalah Mayor Janneman R. Usmany, M.Th., Opsir Pelaksana Kapten Merling Sandjo, S.Th., dan Pemimpin Pelayanan Wanita Ny. Kapten Nursabeth Sandjo. Berkenan yang hadir pada saat itu berjumlah 653 jiwa.
Enam bulan berjalan, pelayanan di Pos Luar Towua semakin berkembang baik secara kualitas (iman) dan kuantitas (jumlah), sehingga dipandang perlu untuk segera membuka pelayanan yang baru. Tepatnya tanggal 14 Juni 2011 ibadah PKW (Persekutuan Kaum Wanita) dimulai dan dihadiri oleh 78 orang Kaum Wanita. Pembicara dan yang memimpin ibadah pada saat itu adalah Mayor Ny. Widiawati Tampai selaku Pemimpin Pelayanan Wanita Divisi Palu Timur dan Ibu Deasy Christine Hohoy, S.Pd.K., selaku sekretaris dari persekutuan ini.
Tepat sebulan setelah dimulainya Persekutuan Kaum Wanita, bukanlah sesuatu hal yang kebetulan lagi di tanggal yang sama di bulan Juli, tepatnya tanggal 14 Juli 2011 dimulai jugalah ibadah PKP (Persekutuan Kaum Pria) dan dihadiri oleh 46 orang Kaum Pria. Pada saat itu yang membuka ibadah Persekutuan Kaum Pria adalah Komandan Divisi Palu Timur, Mayor Yusak Tampai dengan Bapak Denny Djuda sebagai ketua dan memimpin persekutuan ini.
Dalam perkembangan selanjutnya POS LUAR TOWUA dialihkan statusnya menjadi GEREJA BALA KESELAMATAN KORPS TOWUA PALU dalam kurun waktu yang terbilang cukup singkat. Pada saat masih berstatus Pos Luar, Gereja Bala Keselamatan Pos Luar Towua telah menthabiskan 42 Prajurit Dewasa dan 11 Prajurit Muda. Saat ini pun Pos Luar Towua sedang menyiapkan 39 calon Prajurit Dewasa. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pencapaian Visi Bala keselamatan ke depan yaitu penggandaan Prajurit dalam Bala Keselamatan.

Tuhan memberkati Bala Keselamatan di dunia!
Tuhan memberkati Bala Keselamatan di Indonesia!
Tuhan memberkati Gereja Bala Keselamatan Korps Towua!
Maju terus!
Haleluyah!




Minggu, 16 Februari 2014

Kekuatan Cinta

           Benarkah cinta kasih memiliki kekuatan? Wah, kita dapat menjawabnya masing-masing karena kita semua memiliki perasaan cinta kasih. Beberapa waktu yang lalu saya sering menyaksikan acara di layar TV tentang perjuangan hidup seseorang yang di landasi oleh cinta kasih kepada orang yang di sayanginya. Acara tersebut antara lain adalah ORANG PINGGIRAN, JIKA AKU MENJADI, AKU BANGGA. Kisah nyata kehidupan yang terkadang membuat kita meneteskan  air mata tentang seorang ayah berjuang sekuat tenaga walau keadaan  cacat fisik  namun berupaya mencari uang dengan bekerja memanjat kelapa, memecah batu, hanya untuk keluarganya. Seorang ibu bekerja keras membanting tulang sebagai tenaga serabutan dan pencari sayur yang tumbuh liar jauh dari tempat tinggalnya hanya untuk menghidupi suaminya yang sakit dan tak berdaya di rumah serta untuk anak-anaknya. Tak ketinggalan juga kisah tentang anak-anak yang rela hidup susah demi orang tuanya dengan pergi kesekolah tanpa uang jajan, jalan kaki  bahkan hanya makan supermie saja karena tidak mau membebani orang tua lalu pergi membawa keliling jualan es, gorengan tetangga untuk mendapatkan sedikit upah, mencari rumput untuk ternak tetangga dengan bayaran yang sedikit demi membantu orang tua. Semua karena ada cinta kasih!
          Beberapa hari yang lalu, hari kasih sayang sangat terasa walau sebenarnya kasih sayang itu tidak hanya di nyatakan pada Valentine day saja tetapi setiap saat . Tahun ini saya mengikuti ibadah bernuansa Valentine dalam golongan usia yang berbeda yakni di kalangan orang muda dan lansia. Dikalangan orang muda hal ini sudah biasa namun dalam kalangan lansia hal ini sungguh luar biasa. Kenapa demikian? Pertama, hal ini jarang di laksanakan untuk para lansia. Kedua, Kekuatan cinta kasih bukan hanya sampai pada batas usia muda melainkan KASIH TAK BERKESUDAHAN karena kasih Allah adalah kasih yang kekal untuk manusia. Itulah sebabnya suasana ibadah persekutuan Lansia  EL ROI spesial Valentine  sedikit berbeda dari biasanya walau tidak memakai balon pink tetapi sukacita melalui acara ibadah, kuis berhadiah dan  di tandai dengan kue coklat. Kelelahan saya sungguh tergantikan melihat para lansia  yang setia kepada Tuhan dan penuh sukacita beribadah serta menjalani hidupnya ,semoga  tahun depan kita akan melaksanakannya lebih heboh lagi!
             Heboh...itulah dampak dari kekuatan cinta kasih walau ada heboh yang bersifat negatif dan juga ada yang positif. Harapan kita semua adalah heboh secara positif untuk memuliakan nama Tuhan. Dikalangan anak muda, lebih dari dua jam kami merayakan acara tersebut dengan sangat meriah baik dekornya yang di dominasi warna pink, acara musik yang kompak dan seru, singer yang merdu, pemimpin acara yang menarik serta pembawa Firman Tuhan yang gaul dengan anak-anak muda menguraikan tentang tujuh pasangan yang terheboh versi Alkitab, di favoritkan adalah pasangan Yusuf dan Maria ibu Yesus Kristus . Tak ketinggalan juga pasangan yang hadir dan foto pasangan yang terheboh ala GYM yang menambah suasana bahagia di acara kasih sayang tersebut.  Sungguh indahnya hidup di dalam kasih karena kasih dapat mengubah segala-galanya, kejahatan atau kepahitan hidup akan di ubah menjadi yang lebih baik.  Alangkah indahnya cinta kasih!
         Masih banyak  manusia tidak menghargai anugerah Allah itu sehingga pertengkaran, perselisihan bahkan sampai pada pembunuhan terjadi oleh karena tidak lagi mendasari  hidup dengan cinta kasih. Bahkan orang tua sendiri tega membuat anaknya menderita, membunuh darah dagingnya sendiri dan sebaliknya anak membunuh orang tuanya dan sebagainya. Semuanya karena tidak ada  cinta kasih! Sehingga tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi dan menjalani segala keadaan hidup yang sulit. Milikikah cinta kasih, sebab cinta memiliki kekuatan. Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya ( Kidung Agung 8:7a ). Kekuatan kasih sampai pada kekekalan dan lainnya akan berhenti, berakhir bahkan lenyap. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap ( I Korintus 13:8 ). Kekuatan cinta dapat membuat kita bersabar, murah hati, tidak cemburu. Tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri , tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain, bersikap adil dan benar,  menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengarapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu ( I Korintus 13:6-7 ). Jadi, milikilah kekuatan cinta kasih itu! (Mayor Merling Sandjo, S.Th. - Opsir Pemimpin Korps Towua)


Minggu, 02 Februari 2014

Perjuangan Seorang Gembala


      

      Siapa yang tidak terkejut? jika seorang mahasiswa sekolah tinggi teologi, seorang anak hamba Tuhan, seorang yang aktif dalam pelayanan gereja, tiba-tiba berpindah kepercayaan? Sebagai orang tua yang adalah hamba Tuhan, sebagai seorang ketua sekolah tinggi, tentunya kami semua terkejut. Bukan hanya terkejut tetapi sungguh tidak percaya dengan kenyataan ini. Namun demikianlah kenyataan yang ada. Surat bukti pindah agama sudah jelas diperlihatkan, foto-foto sudah terpampang di media sosial, pengakuan yang bersangkutan sudah disampaikan secara langsung dan terbuka, semuanya sudah pasti dan tidak ada bantahan dari pihak manapun.  Kami hanya bisa menerima kenyataan. Saya sendiri coba berpikir, apa penyebab semua ini? Mengapa seseorang bisa berubah seratus delapan puluh derajad tanpa tanda-tanda sama sekali. Dan pertanyaan ini sulit dijawab.

      Pekan lalu saya pergi ke Manado dan salah satu agenda kegiatan saya adalah bertemu dengan mantan mahasiswi yang telah berpindah kepercayaan tersebut. Beberapa minggu sebelumnya, ayah mahasiswi ini telah menelepon saya memberitahukan perkembangan anaknya. Saya diminta untuk memberikan solusi, namun saya sungguh binggung harus memberi nasihat apa. Kami akhirnya berjanji untuk bertemu jika saya datang ke Manado. Pertemuan itu pun akhirnya terwujud. Saya bertandang ke rumahnya, disambut dengan ramah dan akhirnya ia menyampaikan kisahnya yang sungguh penuh dengan perjuangan iman.

      “Saya bersyukur….” Itulah pernyataan pertama yang diucapkan oleh hamba Tuhan ini. “Kisahnya sangat panjang, anak saya kini dalam pemulihan. Untuk sampai pada tahap ini perjuangannya sangat panjang. Bermula dari reuni anak saya dengan teman-temannya, lalu terjadi perubahan yang sangat menakutkan. Anak saya tiba-tiba tidak kembali ke rumah. Setelah menghilang, lima hari kemudian kami menemukanya dan mengembalikannya ke rumah. Namun malam itu ia melarikan diri setelah mengancam ibunya, bahwa jika dia tidak dibiarkan pergi ia akan bunuh diri.” Ia nampak menerewang mengingat peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Ia lalu melanjutkan. “Beberapa hari kemudian saya menerima sepucuk surat nikah dan surat pernyataan yang menyatakan bahwa anak saya telah menikah dan telah berpindah agama. Saya melihat alamat yang tertera di surat itu dan dengan diam-diam saya terus melacaknya. Saya mengeluarkan banyak uang, meminta tolong banyak orang. Ternyata anak saya telah keluar dari Sulawesi Tengah dan berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain. Hal ini adalah agar keberadaannya tidak terlacak. Namun saya tetap berdoa, meminta tolong banyak rekan hamba Tuhan. Sampai suatu hari saya akhirnya menemukan kepastian di mana anak saya berada. Dengan meminta bantuan empat polisi buser dan beberapa orang penting di daerah itu, kami akhirnya dapat bertemu dengan anak kami. Saya akhirnya membawa anak kami ke Gorontalo selama dua minggu tinggal di sana. Kondisi tidak aman, saya harus menyewa dua orang penjaga untuk menjaga rumah kami siang malam. Saya akhirnya memutuskan untuk pindah ke Manado.” Hamba Tuhan ini bercerita dengan penuh kesungguhan. Hampir semua detail dari perjuangan imannya ia ceritakan.

      Ia lalu menceritakan bagian penting lain yang sungguh sangat menakutkan. “Ketika anak kami sudah di Manado, saya meminta tolong satu tim doa. Pelayanan tim doa ini biasanya untuk mendoakan orang-orang yang kerasukan setan. Sebenarnya, saya sudah biasa mengusir setan dari banyak orang yang saya layani. Namun untuk roh-roh jahat yang ada dalam diri anak saya, saya harus meminta tolong orang lain.  Tim doa ini datang dan mulai berbicara dengan anak saya. Namun anak saya menolak untuk berbicara dengan mereka. Sambil berteriak dengan nada sinis ia mengatakan bahwa ia telah berpindah agama.Tim doa terus berdoa dan akhirnya sesudah empat jem berdoa, sesuatu terjadi, sesuatu yang mengerikan dan sulit dipercaya. Dari tubuh anak kami keluar banyak pasir putih, bukan hanya pasir tetapi juga rambut-rambut. Sangat banyak pasir dan sangat banyak rambut. Lalu terjadi perubahan yang drastis, anak saya menyerahkan semua buku, semua peralatan, semua benda yang selama ini mati-matian dipertahankannya. Ia pun terduduk lemas. Malam itu terjadi perubahan yang luar biasa, kesadaran anak saya kembali. Ia selama ini menjauhi kami, papa dan mamanya. Namun malam itu ia kembali kepada kami.”  Saya tercengang mendengar kisah imannya itu.

      Bapak pendeta kemudian memperlihatkan sebuah foto dari telepon selularnya. “Ini foto batu-batu yang keluar dari tubuh anak saya setelah didoakan pada hari kedua oleh tim doa. Batu-batu itu keluar bersama sejumlah rambut. Tubuh anak saya tidak kesakitan sama sekali.” Saya memperhatikan foto itu dengan perasaan tidak percaya. Namun bapak pendeta dan istrinya menyampaikan bahwa inilah kenyataan yang telah mereka alami. Kuasa kegelapan dapat dikalahkan.

      Kami mengakhiri pembicaraan siang itu dengan doa. Dalam hati saya, saya berpikir, betapa luar biasanya bapak ini telah berjuang. Ia telah memberikan seluruh waktunya, ia mengeluarkan banyak uang, menghabiskan banyak tenaga, meninggalkan pelayanannya untuk sementara waktu, meninggalkan anak-anaknya yang lain di Palu, demi putri sulungnya yang meninggalkan imannya. Dalam salah satu bagian pembicaraannya ia katakan: “Saya ini seperti seorang gembala yang meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor domba, dan mencari seekor domba yang terhilang. Dan domba yang terhilang itu adalah putri saya sendiri.” (Mayor Janneman R. Usmany, M.Th.)